Semua Bisa Bicara

Kamis, 27 Januari 2011

Banyak jalan menuju Roma,
tapi ingat,kawan.
TIDAK semua jalan menuju Roma.

Kamis, 20 Januari 2011

menakjubkan.

menakjubkan,
kurasa,
bagaimana orang-orang yang tak dikenal, orang-orang yang begitu asing,
ternyata dapat ada disana,
menyokong punggung yang terus membungkuk,
merengkuh dan membiarkan tubuh rentan itu berkelut didalam buaian keramahtamahannya.

mennyakitkan,
memang,
bagaimana orang-orang yang menyebut dirinya kekasih, sahabat, keluarga, dan teman.
ternyata tak mampu berfungsi,
duduk bersebelahan, namun enggan merasa simpati apalagi peduli,
membelainya namun tak henti menaburkan beban kepundaknya yang telah patah.

"letih".
itu yang berulang-ulang kali ia ucapkan dari bibir yang bergetar.
kekuatan yang ia kutip untuk hidup berasal dari orang-orang tanpa nama itu.

aneh,
mereka yang begitu jauh, mereka yang ia tak pernah tau ada, ternyata datang.
sedangkan,
mereka yang begitu dekat, mereka yang telah lama jadi tempat berbagi hidup, ternyata hanya diam.



untuk ia yang tertinggalkan, untuk ia yang kehilangan.
seluruh dunia sayangnya tak berhenti sedetikpun ketika Tuhan mengambil kembali ibunya.

may she rest in peace.

Jumat, 14 Januari 2011

( , )

mungkin kita adalah koma.
kalimat yang belum selesai,
tanpa tau akan jadi seperti apa kalimat ini.

ya,
kurasa kita memang koma,
kata yang berpadu namun tetap kalimat yang belum selesai.

Kamis, 13 Januari 2011

wajah kita memucat diterpa angin malam.
seperti beku, padahal kita tidak sedang kedinginan.

langkah kita tertatih.
tertatih,
sedangkan kaki kita tidak pincang.

Senin, 10 Januari 2011

cacat dan sempurna

saya berpikir,
jika Tuhan memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu,
mengapa Ia menciptakan cacat, jika Ia mampu membuat semua sempurna?

seseorang menjawab,
"agar kita bersyukur"


dan saya kembali berpikir,
bersyukur atas apa?
bersyukur bahwa kita tak seperti mereka yang cacat?
bersyukur bahwa kita merasa sempurna?
pantaskah?

jika memang itu benar, bahwa cacat diciptakan agar yang merasa sempurna dapat bersyukur, maka saya lagi-lagi berpikir,
membayangkan,
betapa perihnya memikul cacat seumur hidup hanya demi kepentingan orang lain.
menyeret-nyeret cacat itu hanya agar yang melihat mengucap syukur atas kesempurnaan yang mereka jinjing tinggi-tinggi.

pantaskah?


well, then again, it was just me.

Minggu, 09 Januari 2011

don't look for coffe if you want something sweet.
coffe is bitter, and let it be.

gift

dalam hidup,
Tuhan tak pernah berhenti memberi.

dalam hidup,
ada beberapa pemberian Tuhan yang saya pertanyakan.

dalam hidup,
kenapa Tuhan memberikan kekayaan pada mereka yang senang berfoya-foya?

dalam hidup,
kenapa Tuhan memberikan kemiskinan hingga akhir hayat pada mereka yang menderita?

dalam hidup,
kenapa Tuhan menciptakan tumbuhan ganja bila Ia tahu itu memabukkan?

dalam hidup,
kenapa Tuhan membiarkan mereka mata yang tak mampu melihat dan membiarkan mata itu menangis?

dalam hidup,
Tuhan memberi banyak.
banyak hingga fungsi tiap pemberiannya membingungkan.
Tuhan memberi banyak,
hingga membuat saya bertanya-tanya.

kenapa Tuhan memberikan saya mie rebus telur yang telah dingin, bila Ia tau dengan pasti, saya alergi telur.


well, God, that was just me.